Presiden 2014, Bagaimana Menjadi Pemilih Berakuntabilitas ?


Janto Husada PresidenPENDAHULUAN

Makalah disajikan karena sebuah suara anda amatlah berharga bagi pembangunan NKRI. Apa yang diharapkan seorang rakyat dari tokoh yang dipilihnya sebagai pemimpin mereka? Survei mencatat bahwa para pemilih yang bebas, berintegritas dan sadar kenegaraan pada umumnya berharap bahwa tokoh pilihannya menampilkan kesejatian jati-diri, makna, semangat, mementingkan rakyat banyak,  bahwa sergala keunikan pribadi pemimpin itu dikapitalisasi untuk kepentingan bangsa,  bahwa kelemahan pribadi justru menjadi tambahan karisma, bahwa keluwesan tidak mengurbankan prinsip, bahwa jarak sosial dan komunikasi dikelola secara terdiferensiasi, bahwa kepekaan sosial sang pemimpin menjadi basis menentukan pilihan kecepatan respon dan pilihan monentum (speed & timing) perubahan bangsa tersebut.

Pemimpin sejati melakukan kepemimpinan secara kontekstual. Apabila mampu, pemimpin luar biasa mengubah konteks, paradigma.

Makalah mengambil hikmah secara bebas dari buku berjudul Why Should Anyone Be Led by You? karangan Rob Goffee & Gareth Jones, diterbitkan dalam kerja sama dengan Harvard Business School Press(2006), yang dialih bahasa oleh Dewi Minangsari, terbitan Grasindo, Penerbit PT Gramedia Widiasarana Indonesia (2008), diramu berbagai berita umum yang beredar, laporan hasil survei politik berbagai pakar dan analisis pribadi pemakalah.

 BERBAGAI ASPEK KEPEMIMPINAN BANGSA

Elektibilitas calon presiden berhubungan positif signifikan dengan jangka waktu dan luas pemosisian diri calon dibenak rakyat. Sepanjang puluhan tahun Rhoma Irama mendapat keuntungan publikasi sebagai penyanyi, demikian pula panjang waktu penjara Nelson Mandela dan Aung San Su Kyi merupakan proses pemasaran politik. Pembentukan jati-diri di hadapan publik tak dapat dilakukan hanya pada masa kampanye, merupakan daftar riwayat hidup, citra sosial dan kinerja sosial yang harus dibangun selama bertahun-tahun. Kesejatian adalah menampilkan diri sebagai seorang manusia unik seutuhnya, menampilkan keaslian kepribadian, gagasan, gaya kemimpinan yang bukan meniru tokoh terkenal, tidak meletakkan dirinya dibawah bayang-bayang tokoh masa-lalu. Garis keturunan, ningrat partai, golongan, pangkat, hirarki  tak selalu mampu menjelaskan kesejatian calon pemimpin. Kepemimpinan adalah nonrelasional,  situasional dan non-hirarkis. Kepemimpinan efektif adalah kepemimpinan konsisten pada prinsip adaptif pada sityuasi, merespon secara tepat situasi terakhir dan berbagai perubahan, mengambil kesempatan yang muncul tiba-tiba, menggunakan strategi mendekat-menjauh, mempercepat-memperlambat segala hal sesuai situasi.

Modal utama kepemimpinan adalah introspeksi dan mengenal diri sendiri dengan baik, menggunakan kekuatan diri secara sadar dan berhati-hati, sambil menghapus kerugian (bukan menutupi) kelemahan diri dengan berbagai strategi terhormat, misalnya menggunakan teknologi tertentu, juru bicara kepresidenan, asisten pribadi, dan konsultan kepribadian & citra. Hanya pribadi pemimpin dikenal rakyat sebagai pribadi terpercaya yang dapat mengajak, membangkitkan, menyemangati dan memberi inspirasi bagi rakyat. Agar dikenal, pemimpin harus dapat didekati rakyat. Karena itu, strategi menutupi kelemahan diri dengan menjauhi rakyat adalah keliru. Setiap komunikasi harus menggambarkan jati-diri nan tulus dan tidak munafik. Bila hati penuh amarah, kebencian dan arogansi, maka tampilan berupaya hangat dan ramah akan terlihat palsu di mata publik. Interaksi publik adalah segalanya, tampilan bukan sandiwara membentuk persepsi publik yang dalam, tampilan unik – bila berterima batin publik- dipastikan terekam di ingatan publik nyaris abadi. Tampilan adalah ekspresi diri melalui ucapan, falsafah hidup, keberanian, strategi, tampilan pada media masa, gaya rambut dan busana, para sahabat, cara berjalan cepat-mantap-berenergi dan tingkah laku unik sampai taraf eksentrik. Interaksi publik tanpa skenario hanya untuk topik terpilih yang paling dikuasai dan dihayati saja, topik selebihnya lebih kharismatik bila diungkapkan melalui pidato berteks saja. Kharisma adalah pesona. Kesulitan utama seorang Presiden adalah menyediakan waktu untuk latihan membaca teks pidato dan mendiskusikan dengan pembuat naskah, sebelum pidato tersebut disampaikan di hadapan publik.

Tampilan dapat dibuat khusus, misalnya pemimpin sengaja tampil biasa -biasa saja, duduk nyaman dan sedikit under acting, menghadapi publik dikelilingi oleh para anak buah yang perkasa dan luar biasa, sebuah skenario politik penjinak singa yang lemah dan sederhana dikelilingi begitu banyak singa nan garang dan menakutkan. Seorang presiden berumur dan agak uzur sengaja memilih para staf pendamping yang terlihat lebih tua dari dirinya.

Tampilan introvert sedikit pemalu berpotensi kharismatis lebih besar dari tampilan pribadi ekstrovert, apabila dikelola secara baik. Sebagian pemimpin berkarakter introvert sangat piawai mengembangkan manajemen kharisma kesunyian, ucapan pendek sederhana menjadi komoditas media massa, dan para bawahan terus mendengarkan tatkala ia sedang diam. Kata telah menjadi komoditas langka.

Pandang langung lawan bicara – mata ke mata- sepanjang talk show, jangan pernah membuang muka, jangan sekali-kali melempar pandang mengancam atau memandang rendah, pilihlah gaya pandang sabar, hangat, riang, percaya diri, bahagia, penuh kasih dan berwibawa. Gaya bicara jangan menekan. Jangan pernah terbawa provokasi pemandu acara atau lawan bicara, anda harus lihai berkelit indah dan menyerang balik secara jenaka, dan hati publik untuk anda.

Etika sering menjadi batasan raihan pembangunan, sehingga raihan bangsa menjadi sub-optimal. Pembangunan bangsa direduksi menjadi pembangunan ekonomi, pembangunan ekonomi lalu direduksi menjadi kemakmuran materi. Karena tekanan globalisasi cq globalisasi ketamakan, bangsa spiritual berisiko menjadi bangsa materialis. Apabila bangsa menjadi materialis, pemilu capres berisiko menghasilkan pemimpin yang tak bermoral. Jangan salahkan DPR di masa depan apabila penuh KKN karena DPR yang berkualitas buruk sepenuhnya adalah kesalahan rakyat pemilih melalui pemilu. Setiap sebuah suara berbasis moral dapat mengubah tatanan NKRI, maka gunakan secara baik. Demikian pula sebaliknya. Maaf, saya hanya satu suara, saya hanya rakyat kecil, apalah artinya suara saya, adalah persepsi keliru tentang pemilu karena moral, etika, kemuliaan hati, suara, suara hati, rasa tanggungjawab akan masa depan NKRI tak mengenal hirarki.

Karena efektivitas ekonomi diutamakan, sejarah ramai mencatat berbagai pemimpin kharismatik – justru – melakukan pelanggaran hak azasi manusia. Pemilih berkualitas memilih calon berkualitas, pemilih bermoral menyukai calon bermoral tinggi. Segala solusi masalah nasional dan kebijakan harus berdasar alasan, tolok-ukur & persyaratan moral tertentu, menyebabkan semua raihan bangsa menjadi bermakna. Sebagai misal, untuk apa mencapai target GDP Growth dan kenaikan income percapita apabila kualitas hidup sebagai manusia seutuhnya menurun, karena pembangunan kesejahteraan dan kebaikan bukan sebatas kebendaan (materi). Tujuan etis dan proses kepemerintahan nan-etis mendorong penerapan Good Governance, tujuan benar tidak membenarkan cara mencapai tujuan secara tidak benar.

Pemimpin piawai dalam hal memimpin,  seorang  pribadi yang menjadi sumber gagasan baru pembangunan negara, seorang pribadi yang mampu menyentuh jiwa dan pikiran rakyat banyak, yang mampu membakar semangat  dan mendorong raihan kinerja  luar-biasa bangsa itu. Pemimpin berorientasi pada perubahan kinerja bangsa. Kepemimpinan  harus berorientasi pada hasil dan publik berpendapat bahwa raihan luar biasa bangsa tersebut  tak mungkin terjadi apabila tidak dipimpin olehnya.

Pemimpin piawai dalam proses memimpin bangsa, membawa bangsa kedalam sebuah proses perjuangan dan perjalanan bersama nan bermakna, berat dan tak selalu menyenangkan. Sebagai misal, ia mampu membangkitkan etos kerja, membangkitkan aspek sipritual, kesadaran akan pendidikan dan menabung, proses perjuangan mengambil posisi pada PBB, menjadi pimpiinan perjuangan para  olahragawan menuju olimpiade, membakar semangat juang para siswa Indonesia untuk olimpiade robot, matematika  dan berbagai perhelatan internasional  lain.

Pada tataran pemilih, tertengarai bahwa tiap individu  makin termotivasi mencari kepastian dan makna bagi dirinya sendiri. Dalam dunia politik makin penuh kepalsuan, sebagian rakyat yang apatis dan lelah dibohongi merindukan ketulusan. Terjadi fenomena anggota masyarakat yang meninggalkan pimpinan kelompoknya sendiri  dan partai ditinggalkan anggotanya, terjadi fenomena pilihan partai  dan pilihan capres bukan dari partai tersebut. Terjadi trend baru pasar untuk citra pimpinan tenang mengganti pengidolaan pimpinan pahlawan dan kharismatik. Citra keterpelajaran  dan pidato kampanye sebagian para calon pemimpin kelihatan berisiko  demarketing, karena terjadi era baru kerinduan rakyat akan pemimpin nan-tulus dan sederhana,  dengan serta merta menghasilkan fenomena seorang tokoh yang bukan berasal dari keluarga bangsawan politik atau angkatan bersenjata, tak bergelar guru besar atau memiliki simbol-simbol kebesaran lain nan berkilauan. Fenomena sorang tokoh sederhana mungkin dipicu pula oleh kebosanan rakyat akan figur pemimpin ideal tampan-cerdas-kaya-berpengaruh-serba bisa, dipicu oleh pameran keberpihakan nirpamrih, kebersahajaan, sedikit bicara, dengan penyiapan lahan-mental-publik – sekitar 10 tahun-secara tidak sengaja oleh misalnya  Fenomena Tukul Arwana. Rating hasil beberapa survei  pra-pemilu – misalnya sebuah survei – menunjukkan popularitas-elektibilitas tokoh tersebut diduga menarik kelompok tak-memilih  (non voter) dan diduga memulihkan kembali  sebagian dukungan pemilih kepada partai besar  yang sempat turun daun. Ketulusan tentu saja tidak  dapat disandiwarakan semacam superhero sinetron atau opera-sabun, mungkin  digambarkan oleh kebersahajaan tingkah laku keseharian dalam sebuah ekspresi  jati-diri  nir-egois. Penyatuan diri dengan rakyat disimbolisasi oleh ucapan sederhana, gaya sederhana, busana sederhana, kepedulian digambarkan dengan turun tangan sendiri  dan persembahan hasil nyata kepada rakyat. Diperlukan  jargon baru dari retorika “ meningkatkan PDB dan income percapita”, “ menghapus pengangguran”, “memerangi kemiskinan” dan semacamnya.

Tertengarai kekosongan moral, bahwa makin terjadi kehausan moral dengan pesan seperti  “kami sudah lelah dan teraniaya, jangan bohongi kami, jangan tipu kami lagi”. Pilihan publik pada calon pencipta kinerja bangsa, bukan skandal, sehingga modal utama kepemimpinan adalah moral dan citra moral. Jati diri dan moral pemimpin adalah satu, pemimpin tak pernah dapat memimpin bila tak menjunjung moral, sehingga pemimpin idaman adalah calon yang terbukti menjunjung moral. Berbagai upaya pencitraan diri dapat menjadi boomerang bagi  pribadi narsistis berhias berbagai preseden sejarah pribadi  immoral dan kasus. Dunia akan melupakan atau memaafkan kesalahan masa-lalu merupakan asumsi strategi  pencitraan nan keliru.

Globalisasi membawa dampak runtuhnya konsep organisasi, menyebabkan era-baru pencaharian pemimpin sejati tak peduli berasal dari organisasi yang mana. Elektibilitas makin terlepas dari asal tokoh dan kelompok kekuatan dukungan dibelakang pemimpin, namun berbasis  sebaran merata popularitas diri, kharisma dan unjuk kerja. Hal ini menjelaskan elektibilitas lumayan diperoleh dari keuntungan sebaran publik   merata untuk Rhoma Irama – yang dikenal selama puluhan tahun-  ketimbang beberapa kontestan lain.

Fenomena munculnya idola sederhana pada ranah prapemilu 2014  makin meruntuhkan buku teks kepemimpinan yang penuh dengan syarat & karakteristik pemimpin  cq daftar kualitas ideal yang harus dimiliki oleh pemimpin, kini makin memberi tekanan kepada kemampuan pemimpin untuk  bekerja-sama dengan berbagai kekuatan diluar organisasinya. Namun berbagai kualitas pemimpin misalnya kecerdasan emosi (emotional intelligence) muncul pada berbagai wacana publik. Inilah bahaya kharisma ; bahwa pimpinan superstar menyebabkan seluruh anak-buah menjadi tidak penting dan diabaikan publik, menuai kekecewaan diam-diam bagi para pekerja pejuang tersebut. Tak ada yang dapat tumbuh dibawah rindang pohon raksasa.

Organisasi kepemerintahan yang baik memiliki pemimpin yang tepat pada setiap jenjang organisasi. Bagi pemimpin sejati, kemampuan memilih anak buah sebagai pemimpin-sub- organisasi, adalah segalanya. Seorang pemimpin dapat terpilih karena situasi, misalnya situasi kebosanan rakyat akan janji politik menyebabkan memilih pemimpin sedikit bicara, efektif dan tidak mengobral janji.

Tidak sebaliknya, seorang kandidat yang memenangi kursi kepresidenan tidak secara otomatis menjadi pemimpin sejati bangsa.  Perolehan hirarki sebagai eksekutif tertinggi  RI Satu tersebut sama sekali tidak cukup untuk mendudukkan seorang pimpinan bangsa sebagai pemimpin bangsa. Hirarki tertinggi menyebabkan hak menempatkan pemimpin sejati hirarki kedua (mis.menteri), hirarki ketiga dan seterusnya, dan pemimpin sejati menggunakan hak tersebut untuk mencipta hirarki kepemimpinan nan efektif dan harmonis. Negosiasi politik menyebabkan pilihan pimpinan sub-organisasi menjadi tidak optimal, sementara harapan rakyat, GBHN dan/atau Propenas harus terealisasi.

Karena itu (1)kepemimpinan situasional, (2)kepemimpinan non-hirarkis harus dilengkapi kapasitas (3)kepemimpinan relasional dengan berbagai pihak yang dipimpin. Kepemimpinan relasional antara lain adalah mengidentifikasi jaringan relasi dengan bawahan langsung dan pemangku kepentingan bersifat rentan, saling tidak percaya, saling tidak mengindahkan, berisiko putus, tidak harmonis dan kontra produktif, lalu melakukan manajemen relasiional sedemikian rupa agar semua kondisi & risiko tersebut dimitigasi. Secara empiris ditemukan, bahwa kepemimpinan relasional merupakan salah satu kunci sukses yang paling membutuhkan tenaga dan waktu para pemimpin sejati. Para pendukung partai menginginkan partai memberi makna baru bagi kehidupan rumah tangga mereka, para PNS berharap para pimpinan di kabinet memberi semangat dan kegembiraan kerja, para satker kementerian berharap dukungan dan kerjasama menteri mereka,  para menteri berharap presiden lebih percaya kepada mereka, sebagai syarat pengakuan kepada sebuah kepemimpinan. Pada pemerintahan di Indonesia, kepemimpinan relasional adalah sebuah kemestian.

Walk the talk, lakukan yang diucapkan, buktikan, pemeliharaan konsistensi kebijakan menjadi aturan pelaksanaan dan tindak pelaksanaan merupakan aspek penting kepemimpinan pemerintahan. Menjadi diri sendiri seutuhnya adalah penting. Pemimpin sejati merasa berbahagia apabila ia mampu melakukan segala hal konsisten dengan nuraninya, dan karena itu  ia akan berasa nyaman  dalam hal memimpin, merasa dirinya sebagai manusia seutuhnya, menjadi diri sendiri tanpa kepalsuan, dan karena itu mampu mengembangkan diri sebagai pemimpin yang lebih baik lagi. Inilah jawaban atas segala tantangan dan keraguan dari lawan politik dan anak buah yang selalu bertanya dalam hati atau terang-terangan : Mengapa saya harus memilih anda sebagai pemimpin saya?”, “Apa keistimewaan/keunikan anda sehingga saya harus mengikuti instruksi anda  sebagai pemimpin?”.

Tiap pemimpin dipastikan mengetahui ciri khas keunggulan diri dan memanfaatkan keunggulan tersebut untuk menarik pengikut dan memimpin, menggunakan ciri khas diri dan obsesi sebagai pembedaan sejati. Obsesi  dinyatakan-antara lain- pada  busana, tata rambut, gaya dan gaya bahasa flamboyan atau sebaliknya, sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa nyaman bahkan tambahan rasa percaya diri.

Pemimpin  sejati mengambil berbagai risiko secara sengaja, misalnya suatu tujuan atau proyek pembangunan yang berisiko gagal, berbagai kebijakan yang menuai tuduhan populis atau sebaliknya; sengaja mengambil keputusan yang tepat  bagi rakyat walau tidak populis. Pemimpin sejati mengambil risiko keterbukaan diri, sehingga publik mengetahui ia adalah manusia biasa yang menyandang banyak kelemahan manusiawi. Pada umumnya publik tidak menyukai tokoh yang menyangkal atau menyembunyikan kelemahan diri, lebih parah lagi; tokoh yang memposisikan diri sebagai manusia sempurna. Pemimpin sejati mengembangkan daya tarik atau kharisma publik secara optimal justru karena berani  mengakui kelemahan dirinya.

Pemimpin sejati mengandalkan kemampuan kognitif, pengamatan pribadi dan indra keenam, tak (selalu) bergantung masukan (feeding) para pembantunya, membaca perkembangan zaman secara kontekstual dan  arif bijaksana, menangkap tanda-tanda apapun dan memahami apa yang sedang terjadi tanpa perlu selalu meminta penjelasan para staf, dan memberi respon konstruktif proporsional nonemosional terhadap apapun. Pemimpin sejati berupaya menangkap apa yang tak terucap, mengunkap penyembunyian fakta dan berbagai upaya menyenangkan dirinya,  selalu mendorong para pembantu untuk menyatakan kebenaran –dan hanya kebenaran-  tentang kepemimpinannya, walau pahit.

Pengenalan diri sendiri, keterbukaan diri dan pengendalian diri merupakan modal utama. Pemimpin harus selalu berada dalam bingkai masalah pokok bangsa, berdiri tegar pada pusat gempa dan pusaran topan badai, karena itu ia merasakan sendiri masalah dan penderitaan bangsanya.

Pemimpin harus konformis tanpa perlu menjadi kompromistis. Konformitas dilakukan dengan penyatuan langkah dengan para pendukungnya, aliansi strategis dilakukan dengan kelompok politik yang menganut nilai dan mempunyai tujuan yang serupa. Kharisma Mandela berhasil menyatukan berbagai kepentingan dengan pembangunan pemerintahan demokratis tanpa balas dendam pada orde-lama, sebuah strategi konformitas yang terasa berat bagi rakyat yang bertahun-tahun terzalimi.

Strategi kompromi berisiko memberi signal kepemimpinan lemah, memecahkan konflik dengan mengambil jalan tengah yang “terpaksa” disetujui semua pihak sambil diam-diam menyimpan benih ledakan masa depan. Strategi kompromi berisiko memberi signal menyerah, merasa tak berdaya, sebuah strategi keputus-asaan. Setelah perundingan kompromistis, posisi tawar pihak oposisi biasanya menguat. Pihak oposisi cenderung ingin mengulangi perundingan kompromistis.

Ancangan populer untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan adalah menggunakan hasil survei, konsultan, mentor/penasihat, motivator, penasihat spiritual dan pelatih khusus pada bidang keahlian yang terasa kurang, memakai penasihat citra publik sampai pada busana, postur dan protokol. Pemimpin ideal mengetahui efektivitas setiap sarana komunikasi publik, misalnya TV, koran, pidato politik, juru bicara atau langsung, press release atau talkshow (potong-memotong, berargumen, debat dll), jenis media massa lain, lalu menggunakan media yang paling menguntungkan. Soekarno merebut hati rakyat dan membakar semangat melalui pidato, Soeharto menggunakan ancangan temuwicara dengan para petani, Gandhi dan Bunda Theresa menampilkan kebersahajaan dan non-kekerasan.

Menghargai raihan, perjuangan dan capai lelah anak buah akan berbuah dukungan berkelanjutan. Penghargaan merupakan sebuah bentuk imbalan kerja. Ketegasan nan bijaksana adalah keberanian yang baik, sikap keras adalah buruk, perilaku emosional adalah fatal. Konon, tatkala seorang anak buah kepresidenan murka atas serangan oposisi yang tidak proporsional, secara provokatif ia bertanya mengapa presiden tidak membalas. Sang presiden menjawab, bahwa sebagai presiden ia tak mempunyai hak atas “kemewahan” semacam itu.

Elemen kejutan dalam seni komunikasi massa dan kagetan menyenangkan membuat hidup tidak monoton. Apabila burung merak tiba-tiba mengembangkan ekornya, seluruh alam terpana. Pemimpin bergaya teatrikal, kreatif, berani dan impulsif melahirkan berbagai adegan kreatif di luar skenario protokoler, misalnya –ditengah tepuk tangan selepas sebuah tarian- naik kepanggung menyalami para penari adat, yang kemudian menuai tepuk tangan lebih meriah. Adalah protokol dan sekuriti yang heboh panik, adalah kenangan indah tak terlupakan bagi para seniman daerah tersebut. Impulsi negatif sebaiknya dijauhi. Gaya impulsif dan agak sembarangan selalu berisiko, namun menjanjikan pulangan besar. Para maestro memilih risiko ini.

Keaslian tampilan selalu menyegarkan. Pada suatu jumpa publik, seorang pemimpin menolak sarana tayang elektronik dan meja dipanggung karena lebih mementingkan kontak-mata langsung dengan seluruh hadirin. Power point membuat distraksi fokusnya kepada hadirin, meja menghalangi hadirin memandang dirinya secara utuh. Bukan narsis apabila ia sengaja memilih duduk disebuah kursi di atas panggung berhadapan langsung dengan seluruh hadirin. Posisi duduk lebih tinggi dari yang lain dimaksud untuk memudahkan komunikasi semua pihak, bukan meninggi, seperti dibuktikan sepanjang diskusi oleh segala ucapannya yang sederhana, hangat dan tidak menang sendiri. Bukan narsis, inilah kharisma.

Manajemen jarak cq pengelolaan hubungan sosial bertujuan meneguhkan kepemimpinan. Pemangku kepentingan diklasifikasi menjadi kelompok pendukung setia, netral dan kelompok lawan, kemudian dibagi lagi menjadi subkelompok lebih kecil sesuai kebutuhan manajemen hubungan. Pemimpin mengelola paradoks keterbukaan diri dan jati diri sambil selalu menyembunyikan emosi alamiah, mendekat sekaligus menjauh, menyatu dengan rakyat banyak sekaligus membedakan diri dari rakyat banyak dengan berbagai tampilan hangat, setia, peduli sekaligus berwibawa.

Pemimpin ideal selalu belajar, mengkapitalisasi pengalaman, perbedaan, situasi, suka melakukan percobaan (eksperimen) dan suka keluar dari zona nyaman. Cuti panjang dengan keluarga digunakan untuk akumulasi pengalaman baru bukan sekadar relaksasi spiritual.

Sebagai sebuah pribadi milik pubik, pemimpin ideal selalu berasa nyaman akan asal-usulnya, sengaja tak menghapus keaslian aksen bahasa bunda dalam berbahasa Indonesia, gemar busana tradisional dan kesenian asli, melakukan kegiatan beragama dan selalu bangga akan masa lalu.

Pemimpin sejati memperlakukan hal-hal kecil setara dengan mega proyek bangsa, memasukkan berbagai pernak-pernik sosial dalam alokasi APBN seperti distribusi benih padi unggul, pupuk dan perbaikan atap sekolah dasar, turun ke bawah, blusukan dan mendekati ranah publik, menerima keluhan secara langsung dan mengatasi kondisi gawat darurat secara langsung. Muncul pada wilayah bencana alam adalah baik, di atas itu adalah penjelasan publik bagaimana ia dan para menteri mengatasi masalah publik paska bencana.

Gagasan adalah baik, namun pemimpin terfokus pada realisasi gagasan, bukan sekadar pengumpul gagasan baru. Pemimpin mengambil risiko realisasi gagasan baru, menyemangati dan mendorong para pelaksana gagasan.

Diatas itu semua, kualitas pimpinan diproksi kualitas tanggungjawab atas segala kegagalan atau penyimpangan kerja anak buah, tak pernah menghianati kesetiaan bawahan, apalagi mengurbankan bawahan. Pemimpin yang mengurbankan bawahan akan kehilangan dukungan bawahan selebihnya dan dukungan para pemangku kepentingan. Pemimpin harus setia pada bawahan, agar berhak memperoleh kesetiaan bawahan.

Ingkar janji politik adalah fatal, karena itu ketika telah diangkat menjadi presiden, lakukan pertanggungjawaban publik secara berkala tentang realisasi janji saat pemilu. Berharap para pemilih lupa akan janji anda adalah naif, karena berkat janji itulah maka mereka memilih anda. Apabila sukses memenuhi janji, para pemilih akan memilih ulang pemimpin yang sama pada pemilu selanjutnya. Janji diperjuangkan presiden menjadi GBHN/Propenas dan APBN, APBN direalisasi dan dipertanggungjawabkan kepada DPR dan para pemilih.

 

KESIMPULAN DAN PENUTUP

Mungkin tak ada seorang manusiapun yang memenuhi segala syarat ideal kepemimpinan tersebut diatas. Makalah memberi basis pertimbangan pilihan para pemilih calon Presiden NKRI 2014. Sebagai kesimpulan kepemimpinan bangsa penuh penderitaan konflik batin, pengambilan risiko, penuh duka dan kesedihan dibalik kebesaran dan raihan sukses mengagumkan.

Pada akhir masa pengabdian pada bangsanya, seorang pemimpin turun panggung dengan elegan. Tertengarai bahwa surel pengunduran diri paska jabatan berpotensi meningkatkan citra, walau tak dapat digunakan lagi oleh mantan pemimpin. Surat perpisahan biasanya mengucapkan terima kasih, minta maaf dan perasaan berat meninggalkan tugas ditengah jalan, kerendahan hati mantan berpotensi menuai maaf publik dan melihat yang bersangkutan sebagai manusia biasa.

Dan lihatlah begitu banyak surel balik para penggemar yang berduka atas adegan lengser ini, pernyataan kasih dan terima kasih atas keteladanan yang pernah diajarkan bagi bangsa, sebagai sebuah panorama senja nan indah.

Empati kepada pendukung, bawahan dan pejuang yang berbakat, kepada para pendukung & penyumbang utama masa kepemerintahannya, pancaran rasa hormat, empati dan sapaan pribadi nan-bersahaja kepada para penjaga dan pengemudi istana, pramu kantor, tukang kebun dan juru-kebersihan istana semasa kepemimpinan sering menjadi kuotasi publik, terekam dalam pada ingatan publik, tak pudar lintas zaman.

Kemuliaan jiwa di atas integritas apalagi kekuasaan dan harta dunia. Pada akhir karir, kalimat dari publik bahwa anda tak tergantikan, anda bukan sekadar presiden NKRI, anda sungguh peduli kami, anda selalu di hati kami atau ucapan sederhana lain, merupakan bintang penghargaan paling tulus dari anak bangsa.

Cita-cita seorang presiden adalah “ By the end of my career, I look in to the mirror, I ask my mind and find no shame”.

Consentimento, Jakarta, Maret 2014.