{"id":4700,"date":"2021-03-17T11:02:43","date_gmt":"2021-03-17T04:02:43","guid":{"rendered":"http:\/\/www.ksap.org\/sap\/?p=4700"},"modified":"2021-03-17T11:03:24","modified_gmt":"2021-03-17T04:03:24","slug":"teori-aset-komposit-dan-penyusutan-komposit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/teori-aset-komposit-dan-penyusutan-komposit\/","title":{"rendered":"TEORI ASET KOMPOSIT  DAN  PENYUSUTAN KOMPOSIT"},"content":{"rendered":"\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"alignleft size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/image-3.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-4701\" width=\"148\" height=\"202\"\/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Dituturkan Dr Jan Hoesada<\/p>\n\n\n\n<p><strong>PENDAHULUAN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pada suatu rapat KSAP tentang &nbsp;Akuntansi Jasa Konsesi, terbetik wacana penyusutan komposit. Makalah disajikan sebagai penjelasan konseptual tentang hal tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>TEORI ASET KOMPOSIT<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Akuntansi aset gelondongan merupakan sistem akuntansi bagi sekumpulan aset yang bekerjasama dalam sebuah sistem , atau <em>composite asset<\/em>. Aset individual tak dapat bekerja sendiri , bila tidak berada dalam sebuah kelengkapan , bersama aset komplementer lain. Desain dan penggunaan aset individual nan khas agar berkontribusi unik di dalam sistem tersebut, sehingga tak memiliki nilai ekonomi bila sendirian. Pemirsa di mohon melihat SAK\/SAP yang digunakan, jangan jangan melarang sistem pencatatan gelondongan atau aset komposit. Contoh kumpulan aset kompatibel dan saling bergantung adalah sebagai berikut .<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/image-4.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-4702\" width=\"448\" height=\"286\" srcset=\"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/image-4.png 609w, https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/image-4-300x192.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 448px) 100vw, 448px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p><strong>TEORI TI KOMPOSIT<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pada tataran TI, aplikasi komposit adalah sekumpulan perangkat lunak sebagai kombinasian sinergestis&nbsp; berbagai fungsi yang menggunakan sumber informasi bisnis , sekumpulan perangkat lunak yang bekerja-sama pada sebuah platform kapabilitas , tanpa interupsi pindah aplikasi, pindah lokasi atau alternatif operasi secara manual.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>TEORI EFEK KOMPOSIT<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Teori aset-komposit berlaku pada manajemen reksadana. Mengambil hikmah makalah berjudul Optimization with Composite Assets Using Implied Covariance Matrices unggahan Northfield Information Services184 High Street \u22c5 Boston, MA 02110 \u22c5 617.451.2222 \u22c5 617.451.2122 faxwww.northinfo.com (1998) , pada tataran sekuritas pasar modal, racikan\/pemasangan serumpun sekuritas individual membentuk aset-komposit bernama portfolio investasi. Terdapat berbagai (1) risiko bersama bagi seluruh jenis sekuritas beredar, misalnya risiko pandemi dan resesi global, (2) risiko individual setiap efek pasar modal terkait jenis sekuritas dan emiten sejalan dengan berbagai pemodelan faktor secara linear. Pemodelan risiko faktor secara linear dinyatakan oleh matriks-covariance-diharapkan&nbsp; berbagai-pulangan-sekuritas dalam bentuk sebuah matriks-covariance-faktor terujuk-setiap-sekuritas dan terujuk suatu bagian\/porsi&nbsp; khusus pada sebah sekuritas tertentu. Presumsi risiko khusus setiap sekuritas invidual tak berlaku pada sekumpulan efek terangkai (<em>arranged<\/em>) secara komposit untuk optimalisasi pulangan-investasi berbasis keseimbangan risiko vs pulangan, dengan racikan proporsi tertentu oleh pakar-portfolio sebagai \u201c juru masak\u201d. Teori ini menunjukkan bahwa aset komposit secara sinergestis mencipta nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi dibanding gunggungan-nilai seluruh aset-individual , ibarat racikan lihai sambal matah yang memenuhi kebutuhan berbagai lokasi-citarasa-lidah atau sabetan\/goresan kuas seorang maestro seperti Iwan Tirta pada sebuah kain-putih-matah ( bhs.Jawa; blaco) murahan menyebabkan harga sebuah busana batik terjual beratus juta Rupiah. Bagi Global Investment Performance Standards (GIPS\u00ae) , komposit harus dirumuskan sesuai mandat investasi, tujuan investasi dan strategi investasi, sehingga investor dapat membandingkan berbagai tawaran investasi-komposit ( portofolio investasi) . Sebuah portofolio investasi dengan sebuah merek dagang (merek produk) , mengandung begitu banyak fitur pajak, lindung nilai, keluwesan, jangka waktu, mata-uang, jaminan\/penjamin, dan banyak aspek lain, tak boleh secara diam-diam diganti komposisinya, sehingga sejarah kinerja portofolio dapat dimonitor para investor.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>TEORI PENGGUNAAN KOMPOSIT.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Penggunaan komposit bermakna sekumpulan aset digunakan secara serentak bersama-sama dengan sebuah cara\/sistem nan-konsisten dan seragam ( <em>a well fit composite application<\/em>) kalau mungkin langsung saja atau <em>&nbsp;nir-interface<\/em> , pengoperasian aset secara individual berbeda-beda namun berada dalam sebuah harmoni dengan aset individual lain menuju suatu sasaran bersama. Terdapat pula komunikasi interaktif antar aset individual, agar saling menyesuaikan diri dengan yang lain, dalam sebuah <em>orchestra harmony<\/em> nan-sinergestis dalam sebuah <em>interconected environtment<\/em>. Karena itu, dalam akuntansi, nilai ekonomi serumpun-aset-komposit jauh lebih tinggi dibanding jumlah nilai-ekonomi-individual seluruh aset-individual. Bila sebuah aset individual mala-fungsi, maka seluruh sistem terganggu bahkan berisiko terhenti.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>TEORI AKUNTANSI KOMPOSIT<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pada negara AS ber FASB, konvensi aset-komposit dan penyusutan aset-komposit adalah bagian resmi&nbsp; GAAP, yang lalu digunakan sebagai basis membuat pemdoman akuntansi berbagai industri di AS. Apabila manajemen memandang tidak mungkin atau tidak praktis memperlakukan dan mengakuntansikan sekumpulan AT dan\/atau ATB secara individual , maka entitas LK memilih menggunakan metode rumpun (<em>group method<\/em>) AT\/ATB.<\/p>\n\n\n\n<p>PricewaterhouseCoopers mengunggah wacana tentang <em>the mass-asset convention of accounting ( the \u201cgroup\u201d method)<\/em> untuk AT tertentu sebagai sisi lain dari <em>the unitary convention of accounting for fixed assets<\/em>. Pada perkembangan FAS, FASB dan SEC secara evolusionair ( bertahun tahun ) mempertimbangkan faktor kewajiban-paska-penggunaan (<em>Asset Retirement Obligation<\/em> atau ARO) yang memperhitungkan estimasi-hasil-pelepasan-bersih AT-Dihentikan-Penggunaan atau AT-Paskaguna ke dalam beban penyusutan sepanjang umur ekonomi AT\/ATB. Pada paska-masa-pakai , hasil pelepasan aset-gelondongan habis-susut dikurangi biaya pelepasan seluruh atau pretelan aset-bekas-pakai digunakan sebagai dikredit pada akun bangunan ( <em>plant account<\/em>)&nbsp; , di debit ke akun akumulasi-penyusutan , tidak diakuntansikan sebagai untung\/rugi peristiwa peroyaan ( penghentian pemakaian dan penjualan sisa-habis-pakai ) AT.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><span style=\"text-decoration: underline;\"><a href=\"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/TEORI-COMPOSITE-DEPRECIATION.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">S e l e n g k a p n y a . . . <\/a><\/span><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dituturkan Dr Jan Hoesada PENDAHULUAN Pada suatu rapat KSAP tentang &nbsp;Akuntansi Jasa Konsesi, terbetik wacana penyusutan komposit. Makalah disajikan sebagai penjelasan konseptual tentang hal tersebut. TEORI ASET KOMPOSIT Akuntansi aset gelondongan merupakan sistem akuntansi bagi sekumpulan aset yang bekerjasama dalam sebuah sistem , atau composite asset. Aset individual tak dapat bekerja sendiri , bila tidak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":162,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[69,18,67,6],"tags":[],"class_list":{"0":"post-4700","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","6":"category-article","7":"category-artikel","8":"category-publication","9":"category-publikasi","10":"czr-hentry"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4700","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-json\/wp\/v2\/users\/162"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4700"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4700\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4704,"href":"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4700\/revisions\/4704"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4700"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4700"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4700"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}