{"id":4176,"date":"2020-01-01T00:27:51","date_gmt":"2019-12-31T17:27:51","guid":{"rendered":"http:\/\/www.ksap.org\/sap\/?p=4176"},"modified":"2019-12-31T10:44:07","modified_gmt":"2019-12-31T03:44:07","slug":"humor-2020","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/humor-2020\/","title":{"rendered":"KUMPULAN HUMOR PERTAMA TAHUN 2020"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Humorist: Dr Jan Hoesada<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kisah seekor musang<\/p>\n\n\n\n<p>Seekor musang terperangkap di suatu\npertanian&nbsp; Kelurahan Tumaritis dan sang\npetani mengundang petani&nbsp; tetangga dari\nKelurahan Tumakaplak dan menyatakan bahwa ia menangkap musang kelurahan\nsebelah. Tetangga dari Kelurahan Tumakaplak tersebut bertanya, bagaimana ia\nmengetahui bahwa&nbsp; sang musang berasal\ndari kelurahannya ? Petani pemilik perangkap menjelaskan bahwa&nbsp; sang musang tak mau makan umpan berupa\nayam-hidup dalam perangkap. Bahkan ia memuntahkan ayam yang telah ditelan\nsebelum masuk perangkap. Jadi, dalam perangkap, sekarang ada dua ekor\nayam.&nbsp; Kelurahan Angling Darma adalah\njuara GCG dan CSR NKRI antar kelurahan tahun 2019.<\/p>\n\n\n\n<p>Kisah seekor sapi<\/p>\n\n\n\n<p>Seorang turis mengalami mogok mobil , berhenti\ndan memeriksa mesin mobil, ketika seekor sapi mendekati dan manyatakan bahwa\nbusi mobil bermasalah.&nbsp; Hampir pingsan ,\nkaget dan tercengang, sang turis berlari ke rumah terdekat, mengetuk pintu\nrumah petani dan menyatakan kepada sang petani bahwa &nbsp;seekor sapi desa itu dapat bicara bahasa\nmanusia. Sang petani menjawab, namanya Sukesih, jangan dipercaya, ia tidak\npaham mesin mobil , dan menutup kembali pintu rumahnya.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"alignleft is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/image-2.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-4178\" width=\"126\" height=\"167\"\/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Kisah seekor burung<\/p>\n\n\n\n<p>Pagi nan indah, tatkala seekor Kakatua\nmelintas dan menabrak kaca depan mobil seorang petani yang melaju. Sang Kakatua\npingsan, sang Petani membawa pulang untuk di rawat dan meletakkannya disebuah sangkar-burung\nyang tak terpakai, agar aman dari kucing. Rumah sepi karena sang Petani kembali\nbekerja di ladang dan sang Kakatua siuman, melihat dirinya dalam jeruji, dilengkapi\nbiji-bijian dan air minum, dan berteriak : Penjara !!!, aku telah melakukan\npembunuhan !!!.<\/p>\n\n\n\n<p>Kisah seekor anjing<\/p>\n\n\n\n<p>Pak Halowen, sang akuntan selalu pulang malam\nkarena lembur, sering keluar kota karena tugas audit LK, mampir ke Pet-Shop\nuntuk mencarikan kawan bagi istri di rumah sekaligus sebagai sekuriti. Pemilik\ntoko hewan menawari pak Halowen seekor anjing mungil dan lucu dan pak Halowen\nmenertawakan Molek, sang anjing . Ujarnya, cocok untuk mengawani istriku, bukan\nuntuk sekuriti. Pemilik toko menggelar demo, ia berteriak : Molek sepeda. Mata\nMolek mencari sepeda, dan menemukan sebuah bangkai sepeda rusak berkarat di\ndalam toko, menerkam dan merobek-robek menjadi potongan atau serpihan besi.\nPemilik berteriak : Molek Almari, dan Molek menerjang dan menghancurkan almari\nkayu jati tersebut menjadi potongan dan serpihan kayu. Walau seharga tiga\nsepeda-motor, Molek di beli&nbsp; Halowen dan\ndi bawa pulang. Sesampai di rumah, Halowen menyatakan namanya adalah Molek,\ntugasnya mengawani&nbsp; dan melindungi sang\nistri di rumah . Tertawa terkekeh-kekeh dan memegang perutnya , sang istri\nberteriak : Molek dengkulmu Mas!.<\/p>\n\n\n\n<p>Kisah seekor Kakatua<\/p>\n\n\n\n<p>Pada suatu lelang benda antik, tanaman antik\ndan hewan antik. Seorang wanita , mungkin pejabat tinggi negara, terpesona oleh\nwarna paripurna seekor Kakatua, dan ia ikut serta dalam perlombaan\nharga-lebih-tinggi-sedikit dari yang terakhir, menyebabkan puluhan peminat\nberhenti ikut serta. Wanita tersebut menaikkan harga sedikit, dan selalu\nditimpali suara seorang kakek-kakek yang lebih tinggi dari tawarannya sedikit,\nsampai akhirnya sang kakek-kakek memilih diam. Lelang burung kakatua\ndimenangkan wanita pejabat negara tersebut, dan iapun segera melunasi harga\nlelang di kasir.Kasir lelang mengucap selamat atas kemenangannya, pemenang itu\nberucap bahwa harga nya amat tinggi untuk seekor burung yang tak dapatberucap\nbahasa manusia. Mendengar itu, Sang Kakatua berucap, jadi siapa yang bertanding\nharga lelang tadi, kalau bukan saya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kisah seekor sapi gila<\/p>\n\n\n\n<p>Sekumpulan sapi merumput lalu berteduh bersama\ndi bawah rumpun pepohonan nan-rindang untuk acara talk show rutin. Sapi pertama\nmengeluh bahwa ia wabah sampar virus sapi-gila menyebabkan ia berasa tak nyaman\ndan aman, menyebabkan nafsu-makan menurun dahsyat. Lima sapi yang lain\nmenyatakan hal yang sama dan acara santai tersebut menjadi sendu dan muram.\nSapi keenam angkat bicara dengan riang , ya kalian wajar saja kalau cemas dan\ntakut. Saya tetap gembira dan bahagia karena saya seekor ayam.<\/p>\n\n\n\n<p>Kisah sekumpulan kelinci<\/p>\n\n\n\n<p>Seorang pemuda masuk&nbsp; ke sebuah toko hewan , melihat kandang\nkelinci dan bertanya berapa harga kelinci abau-abu itu, dan pemilik toko\nmenjawab Rp.2. Juta. Sang pemuda heran, dan pemilik toko menjelaskan bahwa Sang\nkelinci mampu mengoperasikan komputer, meng-email dan lain-lain. Sang&nbsp; pemuda &nbsp;manggut-manggut lalu melihat kelinci berwarna\nhitam, dan pemilik toko menjelaskan harganya Rp.7 juta karena ia mahir\nintelegensi artifisial dan memodifikasi operating system. Wah, makin mahal, kalau\nyang putih berapa ya. Harganya Rp. 10 Juta dan saya tidak tahun kemampuannya.\nSang Pemuda heran, dan pemilik toko berbisik pelan; semua kelinci lain\nmemanggilya Boss.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Humorist: Dr Jan Hoesada Kisah seekor musang Seekor musang terperangkap di suatu pertanian&nbsp; Kelurahan Tumaritis dan sang petani mengundang petani&nbsp; tetangga dari Kelurahan Tumakaplak dan menyatakan bahwa ia menangkap musang kelurahan sebelah. Tetangga dari Kelurahan Tumakaplak tersebut bertanya, bagaimana ia mengetahui bahwa&nbsp; sang musang berasal dari kelurahannya ? Petani pemilik perangkap menjelaskan bahwa&nbsp; sang musang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":162,"featured_media":4177,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[69,18],"tags":[],"class_list":{"0":"post-4176","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-article","8":"category-artikel","9":"czr-hentry"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4176","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-json\/wp\/v2\/users\/162"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4176"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4176\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4185,"href":"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4176\/revisions\/4185"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4177"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4176"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4176"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ksap.org\/sap\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4176"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}