MANAJEMEN PENJAGAAN HUTAN


Dr Jan Hoesada sebagai anggota Komite Kerja KSAP

Sebagai penyegar ingatan bangsa

Disajikan oleh Dr Jan Hoesada

PENDAHULUAN

Disrupsi sosial ekonomi 2020 menyebabkan mata pencaharian berkurang dan hutan menjadi incaran berbagai pihak. Makalah mengingatkan agar pengetatan penjagaan hutan berbasis RAPBN/D Penjagaan Kelestarian Hutan hendaknya menjadi perhatian Kabinet, janganlah pemulihan ekonomi paska bencana mengurbankan hutan. Dari 140 Juta Ha hutan saat proklamasi, Departemen Kehutanan telah berupaya membangun kembali 113 Juta Ha untuk kawasan produksi 64 Juta Ha, hutan lindung 30,9 Juta Ha dan hutan konservasi 18,3 Juta Ha.

Tujuan pelestarian alam adalah karena alam lestari umumnya, hutan lestari khususnya,  memberi manfaat jangka panjang bagi umat manusia, antara lain (1) oksigen, (2) pendingin udara, (3) air tawar , (4) keaneka ragaman flora dan fauna (biodiversitas) yang perlu bagi berbagai aspek kelangsungan hidup manusia seperti kebutuhan ekonomik seperti keindahan, makanan-minuman dan obat-obatan, (5) menahan erosi, banjir, tanah longsor dan kekeringan.

Karena multidimensi pengelolaan kelestarian hutan, maka masalah pengorganisasian menjadi muncul kepermukaan. Masalah pertama adalah kejahatan atas hutan amat mudah dilakukan, bahkan pengrusakan dapat dilakukan oleh satu orang saja, misalnya membuang puntung rokok di padang stepa sabana. Apabila demikian, maka hutan amat rentan akan kerusakan. Masalah kedua, akses kehutan sangat mudah oleh oknum perusak hutan. Masalah ketiga adalah bahwa masyarakat setempat termasuk pemerintah setempat tidak bertindak menangkap orang asing perusak hutan, namun bersedia ikut memperoleh bagi hasil dari perusakan tersebut. Masalah keempat adalah pemerintah memberi izin bisnis untuk mengakses hutan, yang berpotensi menimbulkan kerusakan, bahkan memberi izin perusakan hutan walau dengan syarat reboisasi. Masalah kelima adalah bahwa kemuliaan nurani dan moral tanpa cacat dari seluruh masyarakat dekat hutan sebagai pengawal hutan adalah sebuah utopia, dihadapkan (didesak) kenyataan kesulitan ekonomi, kemiskinan dan penyakit. Inti masalah adalah kebodohan, keserakahan, kemiskinan vs moral. S e l e n g k a p n y a . . .