Perencanaan Pembangunan dengan
Akuntabilitas yang Berkualitas Menuju Pelaporan WTP
Demikian topik yang disampaikan Kepala Perwakilan BPKP NTT, DR. Bonardo
Hutauruk, dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Provinsi NTT,
Jumat (8 April 2011) di Aula Utama Eltari Kantor Gubernur NTT di Kupang.
Dr. Bonardo Hutauruk menyampaikan bahwa kondisi yang mendukung diperolehnya
opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) adalah Sistem Pengendalian Intern
Pemerintah (SPIP) yang kuat, Laporan Keuangan disusun sesuai Standar Akuntansi
Pemerintah, dan ditindaklanjutinya temuan audit BPK. Kelemahan yang masih sering
terjadi pada pemerintah daerah yakni prioritas dan plafon anggaran yang telah
disepakati antara eksekutif dengan legislatif dilanggar, tidak disediakan
anggaran yang cukup untuk penataan aset tetap dan peningkatan kualitas SDM,
kebijakan akuntansi tidak mengatur batas kapitalisasi, khususnya untuk biaya
yang timbul setelah perolehan aset, dan tidak ada aturan di tingkat Pemda
mengenai Dana Bergulir sehingga antar SKPD beda perlakuan.
Musrenbang Provinsi NTT dibuka oleh Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya,
dihadiri Deputi dari Kementerian PDT, Inspektur dari Kemendagri, Ketua DPRD
Provinsi NTT dan anggota, Walikota dan Bupati se-NTT, Muspida, Kepala Bappeda
Provinsi dan Kabupaten/Kota, anggota DPRD Kab/Kota, Kepala SKPD, serta Lembaga
Internasional/LSM yang seluruhnya dihadiri kurang lebih 500 orang, dengan tema
“Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Melalui Perencanaan Berbasis Desa”.
Dalam sambutannya Drs. Frans Lebu Raya mengungkapkan bahwa Pemerintahan
Provinsi NTT akan sekuat tenaga untuk mengurangi angka kemiskinan di NTT dengan
mengharapkan dukungan dan sinergi dari semua pihak. Jangan ada sekedar program
nanti bisa menurunkan martabat NTT. Gubernur NTT juga meminta kepada lembaga
internasional untuk tidak membawa program sendiri, tapi mendukung dan sinergi
dengan program yang sudah ada.
Frans Lebu Raya menambahkan Musrenbang tahun 2011 memiliki kekhususan yakni
bertepatan dengan percepatan pembangunan di NTT, komitmen pemerintah pusat harus
diapresiasi karena pada tahun 2012 sampai dengan 2014 memberikan kesempatan
kepada NTT untuk mengajukan Program Inisiatif Baru dengan anggaran 4,3 trilyun
untuk tiga wilayah yakni NTT, Papua dan Papua Barat. Gubernur berharap NTT
mendapatkan porsi yang lebih besar karena Papua dan Papua Barat telah memiliki
dana otonomi khusus, penduduknya lebih sedikit, dan memiliki sumber daya alam
yang hebat.
Frans Lebu Raya mengatakan pada tahun 2014 secara nasional telah dicanangkan
swa sembada daging dan garam, dan NTT diharapkan menjadi gudang ternak dan
lumbung garam. Namun demikian ada kekhasan NTT yang harus mendapatkan perhatian
yakni NTT sebagai daerah perbatasan sehingga rawan penyusupan, NTT juga sebagai
daerah rawan bencana, serta NTT sebagai daerah tertinggal, dari 21
kabupaten/kota sebanyak 20 kabupaten merupakan daerah tertinggal.
Gubernur NTT sangat menekankan pentingnya prioritas program dibidang
pendidikan, kesehatan, pengendalian penduduk, pertumbuhan ekonomi yang menambah
pendapatan perkapita, peningkatan infrastruktur untuk mempercepat kesejahteraan.
Kepala Bappeda Provinsi dan kabupaten/kota diharapkan cermat dan berkualitas
dalam pra musrenbang dan jangan copy paste, harus ada inisiatif dan kreatifitas
baru.
Sumber:
Situs
BPKP